HIBURANDinamika Konser 40 Tahun Kahitna: Antara Apresiasi Ekosistem dan Kekecewaan Penonton
Merayakan empat dekade perjalanan sebuah grup musik bukanlah pencapaian yang bisa dipandang sebelah mata. Kahitna, nama yang sudah tertanam kuat dalam memori kolektif penikmat musik pop Tanah Air, baru saja menandai eksistensi panjang mereka melalui perhelatan konser 40 tahun. Ekspektasi publik melambung tinggi, dan jauh-jauh hari sebelum hari pelaksanaan, grup legendaris ini sudah menjanjikan sebuah sajian musikal yang istimewa.
Mengutip laporan dari 20.detik.com awal September lalu, Kahitna memang berniat memberikan yang terbaik dengan mempersiapkan pertunjukan epik dan repertoar yang terbilang panjang, yakni membawakan hampir 40 lagu. Ambisi artistik ini jelas dirancang untuk memuaskan dahaga dan kerinduan para penggemar setia yang telah tumbuh bersama melodi-melodi mereka melintasi berbagai generasi.
Dilihat dari kacamata industri secara makro, acara ini mendapat dukungan dan sorotan yang amat positif. Kementerian Ekonomi Kreatif (Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia) melihat gelaran konser ini bukan sekadar ajang hiburan semata, melainkan momentum penting bagi industri. Berdasarkan pandangan resmi pihak kementerian, perayaan 40 tahun Kahitna dinilai sebagai sebuah pencapaian besar yang mampu memberikan dampak positif bagi keberlangsungan serta penguatan ekosistem musik nasional. Di atas kertas, acara ini menjadi bukti nyata bagaimana musisi lokal mampu bertahan, beradaptasi, dan tetap relevan di tengah gempuran tren, sekaligus ikut menggerakkan roda ekonomi kreatif di Indonesia.
Sayangnya, narasi besar dan kemegahan repertoar tersebut harus berhadapan dengan realitas operasional di lapangan. Pengalaman mendengarkan puluhan lagu hits ternyata diwarnai oleh kendala teknis dan tata kelola acara yang tidak memuaskan sebagian penonton.
Beberapa saat setelah kemeriahan panggung usai, gelombang ketidakpuasan mulai nyaring terdengar. Berbagai keluhan terkait ketidaknyamanan selama acara berlangsung mencuat ke permukaan dan mewarnai linimasa media sosial. Liputan dari CNN Indonesia mencatat bahwa rentetan kritik keras dari penonton ini akhirnya memaksa pihak promotor konser untuk mengambil tindakan. Pihak penyelenggara kemudian merilis pernyataan maaf secara resmi kepada publik untuk merespons segala keluhan dan rasa tidak nyaman yang dialami audiens selama pertunjukan berlangsung.
Dinamika yang terjadi pada konser perayaan ini memperlihatkan dua sisi mata uang dari sebuah produksi acara berskala masif. Di satu sisi, apresiasi pemerintah menegaskan posisi Kahitna sebagai aset krusial yang menginspirasi dalam ekosistem musik lokal. Kemampuan sebuah band untuk mengumpulkan ribuan orang guna bernyanyi bersama merayakan usia 40 tahun adalah bukti tak terbantahkan dari magnet karya mereka.
Namun di sisi lain, pengalaman riil para penonton di lokasi merupakan ujung tombak yang menentukan sukses atau tidaknya eksekusi sebuah acara. Penampilan maksimal dan magis di atas panggung bisa dengan mudah menguap pesonanya jika penikmatnya harus berkutat dengan sistem penyelenggaraan yang jauh dari kata rapi.
Pada akhirnya, perayaan 40 tahun Kahitna menjadi sebuah rekam jejak yang patut diperhatikan bagi ekosistem industri hiburan kita. Acara ini tidak hanya meninggalkan kebanggaan atas ketahanan musisi lokal, namun sekaligus menjadi alarm bagi para promotor. Semakin besar antisipasi publik terhadap suatu acara bersejarah, semakin tanpa kompromi pula standar operasional yang harus dipenuhi di lapangan. Penggemar mungkin akan selalu mengenang lagu-lagu favorit yang dibawakan, namun kenangan akan seberapa nyaman mereka diperlakukan saat menonton juga tidak akan mudah dilupakan.
Foto sampul: Kahitna Bikin Baper Warga Makassar di Konser Bahaya Mantan T / Web / Pers


