← SemuaEnola Holmes 3 Nangkring di Puncak Netflix, Tapi Kritikus Bilang Ceritanya Kehilangan TajiFILM

Enola Holmes 3 Nangkring di Puncak Netflix, Tapi Kritikus Bilang Ceritanya Kehilangan Taji

4 Juli 2026 · 2 menit baca

BagikanWhatsAppX

Begitu dirilis, Enola Holmes 3 langsung melesat ke posisi teratas tangga penayangan global Netflix. Tapi popularitas itu ternyata tidak sejalan dengan sambutan para kritikus film, yang ramai-ramai menilai sekuel ketiga ini sebagai versi yang lebih lemah dibanding dua pendahulunya.

Enola yang Makin Dewasa, Tapi Kasusnya Kurang Menggigit

Digital Spy mencatat bahwa film ini menjadi babak paling gelap dalam perjalanan sang detektif remaja yang diperankan Millie Bobby Brown, dirilis setelah jeda empat tahun sejak film kedua. Sisi positifnya, jeda itu terasa membuahkan hasil pada sisi pendewasaan karakter Enola yang digambarkan lebih matang. Sayangnya, menurut Digital Spy, kualitas misteri yang jadi inti cerita malah terasa kurang memuaskan dibanding dua film sebelumnya, seolah pertumbuhan karakter tidak dibarengi dengan naskah kasus yang sama kuatnya.

Collider bahkan lebih tegas menyebut Enola Holmes 3 sebagai petualangan misteri yang gampang dilupakan. Kecerdasan dan pesona jenaka yang jadi ciri khas dua film pertama, menurut ulasan itu, memudar di instalmen ini. Untungnya, penampilan para pemain masih dianggap cukup menghibur, setidaknya bagi penonton yang menonton santai tanpa ekspektasi tinggi terhadap kompleksitas plot.

Terlalu Bergantung pada Bayang-Bayang Sherlock

Kritik paling tajam datang dari ScreenRant, yang menyoroti turunnya energi permainan Millie Bobby Brown dibanding penampilannya di dua film sebelumnya. Yang lebih disayangkan, ulasan itu menilai plot film ini terlalu mengandalkan mitos besar Sherlock Holmes sebagai kakak Enola, alih-alih membangun cerita yang berdiri di atas kaki karakter utamanya sendiri. Akibatnya, perkembangan Enola sebagai detektif dengan caranya sendiri jadi terpinggirkan, kalah oleh daya tarik nama besar sang kakak yang justru harusnya jadi elemen pendukung, bukan pusat cerita.

Pola ini menarik untuk dicermati karena tiga ulasan tersebut, meski beda sudut pandang, berujung pada kesimpulan yang mirip: formula waralaba yang sebelumnya terasa segar kini mulai menampakkan batasnya. Ketika sebuah francise terlalu sering menyandarkan diri pada elemen yang sudah terbukti berhasil, dalam hal ini nama besar Sherlock Holmes, risikonya adalah karakter utama yang seharusnya jadi pusat cerita malah kehilangan ruang untuk berkembang.

Sukses Komersial vs Sambutan Kritis

Menariknya, performa Enola Holmes 3 di tangga penayangan Netflix tetap kuat sejak hari pertama rilis. Ini menunjukkan gap yang cukup umum terjadi pada waralaba streaming besar, di mana basis penggemar setia dan rasa penasaran penonton kasual tetap mampu mendorong angka tontonan tinggi, terlepas dari bagaimana kritikus menilai kualitas ceritanya secara substansial.

Bagi penonton yang mengikuti Enola Holmes sejak film pertama, sekuel ketiga ini kemungkinan tetap layak ditonton untuk melihat kelanjutan arc karakter Enola yang memang digambarkan lebih dewasa. Tapi bagi yang berharap kejutan plot dan kecerdasan misteri seperti dua film sebelumnya, tiga ulasan di atas kompak memberi sinyal untuk menurunkan ekspektasi.

#Enola Holmes 3#Netflix#Millie Bobby Brown#review film#Sherlock Holmes

Sumber