K-POPKetika Lirik Lagu Memantik Polemik: Dinamika CORTIS dan Hanroro
Persinggungan antara musisi arus utama dan ranah independen tidak selalu berjalan mulus. Sering kali, perbedaan budaya penggemar dan cara mengapresiasi karya memicu gesekan yang sebenarnya bisa dihindari. Belakangan ini, perbincangan di kalangan penikmat musik Korea Selatan sedang tertuju pada grup idola CORTIS dan musisi indie Hanroro. Semua ini bermula dari hal yang tampaknya sederhana bagi sebagian orang: lirik lagu. Namun, dalam industri musik yang digerakkan oleh loyalitas penggemar, satu baris lirik yang salah penempatan bisa berubah menjadi bola salju kontroversi.
Pekan lalu, CORTIS merilis lagu baru yang mengusung tema seputar uang dan kekayaan. Di tengah balutan melodi dan lirik yang menceritakan gaya hidup tersebut, terselip sebuah rujukan yang menyebut nama musisi indie, Hanroro. Menurut laporan dari Korea Herald pada 23 Agustus 2026, penyebutan nama ini segera memicu reaksi keras, terutama dari basis penggemar Hanroro. Bagi mereka, musik Hanroro bukan sekadar lagu biasa, melainkan karya yang sarat akan nilai emosional dan makna personal yang mendalam. Penempatan namanya di dalam sebuah lagu pop tentang uang dianggap tidak pada tempatnya, bahkan dinilai merendahkan esensi karya-karya Hanroro yang dikenal kontemplatif. Penggemar merasa ada ketidakcocokan nilai yang membuat rujukan tersebut terasa lebih seperti ejekan ketimbang apresiasi.
Kritik yang mengalir deras di berbagai platform media sosial akhirnya membuat pihak CORTIS harus angkat bicara. Adalah Keonho, salah satu anggota grup tersebut, yang mengambil inisiatif untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Sehari setelah laporan awal, tepatnya pada 24 Agustus, Chosun Ilbo memberitakan bahwa Keonho memberikan klarifikasinya kepada publik. Ia menjelaskan bahwa lirik yang menuai polemik tersebut sebenarnya ditulis murni sebagai bentuk penghormatan atau sebatas "shout-out". Dalam pernyataannya, Keonho menegaskan bahwa ia menaruh kekaguman yang besar terhadap lirik-lirik puitis yang selalu dihadirkan oleh Hanroro dalam setiap rilisan lagunya. Ia dengan tegas menepis segala tuduhan yang menyebutkan bahwa CORTIS berniat untuk meremehkan atau mengeksploitasi nama sang musisi indie. Niat awalnya adalah murni untuk menunjukkan respek dari sesama pelaku industri musik.
Meskipun klarifikasi sudah diberikan, perdebatan di dunia maya antara penggemar kedua belah pihak masih terasa panas. Di satu sisi, ada yang bisa menerima penjelasan Keonho, namun di sisi lain, tidak sedikit yang masih merasa tindakan penulisan lirik dari CORTIS terlampau gegabah. Ketegangan ini mungkin akan terus berlanjut tanpa arah jika saja Hanroro sendiri tidak turun tangan. Mengutip pemberitaan dari Korea Times pada 25 Agustus, Hanroro akhirnya menanggapi rentetan kejadian ini secara langsung melalui sebuah tulisan di platform komunitas penggemarnya. Alih-alih memperkeruh suasana atau ikut merasa tersinggung, ia merespons situasi tersebut dengan sangat tenang.
Hanroro menyatakan bahwa ia menerima pencatutan namanya dalam lagu CORTIS tersebut sebagai sebuah pujian dari sesama rekan musisi. Ia memilih untuk melihat niat baik di balik lirik tersebut, yang tentunya sejalan dengan apa yang sudah diklarifikasi oleh Keonho sebelumnya. Yang paling ditekankan dari pesannya adalah permohonan tulus kepada para penggemarnya dan publik secara luas untuk menyudahi perdebatan. Ia meminta agar semua pihak berdamai dan tidak lagi bertengkar demi menciptakan suasana yang kondusif di antara para pendengar musik.
Penyelesaian konflik ini memperlihatkan kedewasaan dari kedua belah pihak. Ini juga menjadi pengingat tentang betapa berbedanya cara pandang dalam menikmati sebuah karya di skena yang berbeda. Tradisi melempar sapaan nama yang mungkin lumrah di genre tertentu kadang bisa ditafsirkan berlainan ketika menyeberang ke komunitas pendengar lain yang protektif terhadap nilai otentik karya artis idola mereka. Beruntung, sikap terbuka dari Keonho yang mau menjelaskan niat aslinya, serta respons elegan dari Hanroro yang memilih merangkul situasi ini, berhasil meredam apa yang bisa saja menjadi konflik berkepanjangan. Pada akhirnya, kedua musisi ini membuktikan bahwa di balik bisingnya perdebatan daring, selalu ada ruang untuk saling menghargai antarsesama pembuat karya.
Foto sampul: 397.700+ Mikrofon Peralatan Rekaman Foto Stok, Potret, & Gam / Web / Pers


