← SemuaFilm Sci-Fi Lokal 'Akal Imitasi': Sentilan Keras untuk Komersialisasi Pendidikan AIHIBURAN

Film Sci-Fi Lokal 'Akal Imitasi': Sentilan Keras untuk Komersialisasi Pendidikan AI

15 September 2026 · 3 menit baca

BagikanWhatsAppX

Membayangkan latar waktu yang tidak terlalu jauh dari sekarang, tepatnya di tahun 2029, sistem pendidikan mungkin saja mengambil wujud yang sama sekali berbeda dari apa yang kita kenal. Bayangan inilah yang coba dihadirkan lewat rilis film fiksi ilmiah lokal terbaru berjudul Akal Imitasi. Di tengah ramainya pasar film yang kerap didominasi genre horor atau drama percintaan, kemunculan karya garapan sutradara Zhaddam A. Nurdin ini rasanya memberi angin segar. Lebih dari sekadar hiburan, film ini datang dengan membawa isu yang cukup berat dan sangat relevan, seakan menampar kita dengan realitas yang mungkin sedang menunggu di depan mata.

Menurut jadwal yang dilaporkan oleh Pikiran Rakyat, Akal Imitasi bersiap meramaikan layar bioskop tanah air mulai 17 September mendatang. Narasi utama film ini berpusat pada tokoh bernama Ika, yang hidup di era ketika kecerdasan buatan bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan sudah menjadi sistem dominan yang mengendalikan banyak aspek. Lewat kacamata Ika, penonton akan diajak melihat bagaimana rasanya menjadi bagian dari angkatan pelajar yang harus berhadapan dengan sebuah sistem pendidikan kecerdasan buatan super canggih yang diberi nama PIKO.

Menariknya, Akal Imitasi tampaknya tidak tertarik untuk sekadar memamerkan utopia masa depan atau mengulang cerita usang tentang robot yang mengambil alih dunia secara harfiah. Ada lapisan kritik sosial yang tebal dan tajam yang coba dikupas. Tribunnews mencatat bahwa karakter Ika yang diperankan oleh aktris Zaskia Alya Kyla secara spesifik ditulis sebagai seorang siswi yang berasal dari keluarga sederhana. Keputusan untuk menggunakan sudut pandang masyarakat menengah ke bawah ini adalah langkah yang strategis. Lewat petualangan Ika, film ini menyoroti secara langsung ketimpangan akses terhadap apa yang diklasifikasikan sebagai teknologi pendidikan premium.

Mari kita bedah skenarionya. Kecerdasan buatan seperti PIKO mungkin mampu memberikan kurikulum personal yang paling mutakhir, analisis bakat yang sangat presisi, hingga metode penyampaian materi yang tidak pernah lelah. Namun, teknologi berbiaya tinggi tentu menuntut infrastruktur dan investasi yang tidak main-main. Di sinilah letak konflik utamanya. Akal Imitasi melontarkan kritik keras terhadap bahaya komersialisasi di dunia pendidikan. Ketika sekolah-sekolah yang didukung oleh fasilitas AI terbaik hanya mematok harga yang bisa dijangkau oleh kaum elit, nasib siswa berotak cemerlang namun terhalang tembok ekonomi seperti Ika menjadi tanda tanya besar. Kesenjangan sosial yang tadinya berkisar pada kepemilikan barang mewah, dalam film ini bergeser menjadi kesenjangan kualitas kecerdasan dan masa depan.

Selain isu ekonomi, pendekatan mekanis dalam ruang kelas juga membawa efek samping pada perkembangan psikologis dan emosional pesertanya. Berdasarkan ulasan dari Tempo, salah satu pesan krusial yang ingin ditegaskan oleh sang sutradara adalah tentang peran tak tergantikan dari seorang pendidik manusia. PIKO mungkin bisa memecahkan rumus fisika paling rumit dalam hitungan milidetik atau menyusun matriks jadwal belajar yang paling efisien bagi setiap siswa. Meski begitu, secanggih apapun rentetan kode algoritma di dalam server PIKO, ia tidak akan pernah bisa mereplikasi empati, kehangatan, dan keteladanan karakter.

Pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar transfer informasi dan data dari satu layar ke memori manusia. Ada proses pembentukan karakter, nilai moral, dan pemahaman emosional yang selama ini ditularkan melalui interaksi langsung antara guru dan muridnya. Kehilangan sentuhan manusiawi inilah yang menjadi salah satu sorotan utama, mengingatkan penonton bahwa efisiensi teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas kemanusiaan yang dihasilkan.

Kehadiran Akal Imitasi memberikan medium bagi penonton untuk berpikir ulang mengenai batas-batas etis dan praktis implementasi teknologi di sektor pendidikan publik. Mengadopsi inovasi sebagai instrumen pendukung tentu hal yang wajar. Akan tetapi, menyerahkan kendali pendidikan sepenuhnya pada sistem dan menjadikannya komoditas yang hanya bisa dinikmati segelintir orang, jelas menyimpan potensi masalah yang serius. Kombinasi antara isu sosial yang membumi dengan balutan elemen fiksi ilmiah membuat sajian layar lebar ini punya beban narasi yang patut diapresiasi. Mulai pertengahan September ini, kita bisa menyaksikan secara langsung bagaimana kecemasan akan komersialisasi teknologi diterjemahkan ke layar bioskop, dan menimbang seberapa dekat fiksi ini dengan realitas kita sekarang.


Foto sampul: Ron Lach / Pexels

#Akal Imitasi#Film Indonesia#Sci-Fi#Zhaddam A. Nurdin#Zaskia Alya Kyla#Kecerdasan Buatan#Pendidikan

Sumber

Film Sci-Fi Lokal 'Akal Imitasi': Sentilan Keras untuk Komersialisasi Pendidikan AI · KANAL